[PA]sir [PU]tih [MA]likan

Jika ada Tanjung yang terlihat begitu eksotis dan indah, saya akan memasukkan Tanjung Papuma sebagai salah satunya. Papuma atau lengkapnya Pasir Putih Malikan adalah sebuah Tanjung yang terletak 37 km arah selatan Kota Jember. Perlu sekitar 1 jam perjalanan dari kota ke arah Ambulu, kemudian terus menyusuri jalan hingga ada billboard besar di sisi kanan jalan yang menunjukkan pintu masuk kawasan Pantai Papuma dan Pantai Watu Ulo. Dari billboard, perjalanan masih 10 KM untuk sampai di Pantai Papuma, sepanjang 5 km ini pemandangannya tidak akan mengecewakan, hamparan sawah di kiri-kanan jalan dan juga pohon jati yang berdiri kokoh di sepanjang jalan, area ini memang bagian dari kawasan Perhutani.

Hutan jati menuju Pantai Papuma
Hutan jati menuju Pantai Papuma

Selama di jalan, saya tidak menemui ada angkutan umum yang menuju ke Papuma, kebanyakan pengunjung menggunakan kendaraan pribadi, motor dan mobil. Menurut info dari warga setempat, dahulu sempat ada angkutan umum yang menuju arah ke Tanjung Papuma, namun pengunjung lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, jadi angkot tersebut tidak laku dan berhenti beroperasi. Yaah..

Batu bersisik di Pantai Watu Ulo. Mirip sisik ular nggak sih?
Batu bersisik di Pantai Watu Ulo. Mirip sisik ular nggak sih?

Ada dua pantai yang berbeda disini, yang pertama adalah Pantai Watu Ulo (Watu : batu, Ulo : ular). Pantai ini berpasir hitam, dengan ombak tidak terlalu besar. Ada beberapa warung penjual makanan disini, pengunjung tidak terlalu ramai. Pada sisi kanan pantai, ada batu panjang yang menjorok ke laut, jika dilihat sekilas dari kejauhan, batu ini memang seperti ular dengan bentuk tumpukan batu seperti guratan sisik ular.

Anak bermain bola di Pantai Watu Ulo
Anak bermain bola di Pantai Watu Ulo

Begitu keluar dari kawasan Pantai Watu Ulo, sudah disambut dengan pintu gerbang Pantai Papuma, dengan jalan menanjak dan menurun yang curam perlu dilalui. Seketika pemandangan indah Pantai Papuma terbentang di depan, pantai dengan pasir putih di sisi kiri dan batu di sisi kanan.

Pantai Papuma dilihat dari atas
Pantai Papuma dilihat dari atas

Jika ingin menginap, ada beberapa penginapan yang dikelola oleh Perhutani, harganya sekitar Rp.200.000 – Rp.500.000/malam/cottage. Jika ingin mencoba pengalaman lain, cobalah berkemah pada camping ground di depan pantai, untuk sewa tenda dengan kapasitas 4 orang dikenakan biaya Rp.75.000.

Ada beberapa sarana MCK yang bisa digunakan, kondisinya tidak terlalu kotor. Di sepanjang Pantai Papuma ada tanda larangan untuk berenang, namun tetap saja banyak yang berenang. Papuma bagus didatangi saat sunrise dan juga sunset, kala itu sunrise muncul sangat indah dengan cahaya matahari berbentuk bulat utuh, dihiasi oleh pelangi di belakangnya. Wonderful!

Rainbow over Papuma
Rainbow over Papuma

Tempat yang paling pas untuk melihat Papuma adalah Sitinggil. Sitinggil adalah tempat yang digunakan untuk melakukan observasi pada ketinggian di Papuma, letaknya di bukit sisi sebelah Timur pantai. Perlu menaiki beberapa anak tangga, lumayan buat olahraga deh.

Di pinggir pantai banyak warung penjual ikan bakar, rekomendasi dari pemilik tenda adalah untuk mencoba Warung Ibu Umie. Warung ini tidak terlalu jauh dari pantai, saat memasuki warung, seorang ibu setengah baya menyapa saya ramah, dialah Ibu Umie, pemilik warung ini. Ia ramah sekali, mempersilakan saya memasuki warungnya dengan bahasa Inggris, “Hello, good morning. How are you today? What do you want to order?”

Hmmm… tidak biasanya nih pemilik warung begini ramahnya dan berbicara bahasa Inggris. Dari ceritanya saya tau, ternyata Ibu Umie pernah menjadi TKW di Malaysia selama beberapa tahun dan kebetulan disana ia bekerja di restoran, jadi sering menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Mantap! Lanjutnya, ia juga pernah menjadi satu-satunya dan yang pertama sebagai tukang ojek wanita pertama di Papua.

“Saya sampai diliput Metro TV lho, Mas waktu jadi tukang ojek pertama di Papua”, ceritanya bangga.

Ada beberapa pilihan ikan yang ditawarkan olehnya, saya memilih seekor ikan kakap merah dengan ukuran 700 gram, dibakar. Cukup lama saya menunggu ikannya selesai dibakar, ikan bakar ini sungguh berbeda dengan ikan bakar yang pernah saya makan. Bumbu ikannya meresap hingga ke dalam dan juga bagian dalam ikannya kering. Untuk seporsi ikan, 2 piring nasi putih, dan minuman, saya membayar tidak lebih dari 60 ribu.

Ikan bakar ini enak banget..
Ikan bakar ini enak banget..

Selain ikan bakar, gurita juga menjadi olahan khas di pantai ini, Ibu Umie langsung menawarkan saya untuk mencoba gurita.

“Mas, mau gurita untuk besok? Saya bisa siapkan”, tanyanya.

“Hmm..berapa harganya, Bu?”, tanya saya.

“Satu kg gurita harganya Rp.70.000 saja”, cukup murah pikir saya, sambil membayangkan Chuka Idako, gurita kecil mentah yang biasa saya makan di restoran sushi seharga tidak kurang dari Rp.25.000 untuk 1 piring kecil. Gleekk..

GURITA!
GURITA!
Gurita bakar dan gurita asam manis. Yummy!
Gurita bakar dan gurita asam manis. Yummy!

Kunjungan ke Papuma saya tutup dengan menyantap 1 porsi gurita asam manis dan juga gurita bakar. Lezat!

Sudahkah kamu ke [PA]sir [PU]tih [MA]likan..?

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s