Posted in Indonesia, Jawa

Eksotisme Gunung Merbabu

Namanya sangat terkenal di kalangan pendaki, sebagai salah satu gunung yang paling banyak didaki di Pulau Jawa. Ialah Gunung Merbabu yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, gunung ini memang bukan gunung tertinggi di Pulau Jawa, maupun di Jawa Tengah, tapi keeksotisannya menjadi magnet bagi para pecinta alam, ditambah keberadaan gunung di sampingnya, yaitu Gunung Merapi yang biasanya menjadi satu paket pendakian dengan Gunung Merbabu.

DSCN4085

Ada beberapa rute yang bisa ditempuh, yaitu dari Chuntel, Tekhelan, Wekas, dan juga Selo. Masing-masing dengan karakteristik tersendiri, seperti jalur Chuntel yang relatif lebih terjal namun paling cepat menuju puncak.

#Chuntel

 

DSCN4033
Awal pendakian melalui Cuntel

Namanya lucu, itu yang pertama kali terlintas di pikiran saya, sering kali terbalik dengan Chundel, Chandel, dan Chungel. Bahkan teman seperjalanan saya, Ridwan pun tidak mampu ingat Chuntel saat saya tanya di Puncak Merbabu.

Menuju basecamp Chuntel tidaklah sulit, jika memulai perjalanan dari Jakarta menaiki kereta ke Semarang, bisa dilanjutkan dengan menaiki bis jurusan Salatiga / Solo, tanyakan kepada kondektur bus agar diturunkan di perempatan Pasar Sapi-ini juga lucu namanya. Lalu dilanjutkan dengan bus ¾ menuju Chuntel. Yang perlu diperhatikan adalah jam kedatangan kereta di Semarang, jika kereta sampai pada tengah malam, siap-siap menunggu bis hingga pagi di stasiun ya. Kalo nggak mau menunggu pagi, bisa langsung melanjutkan perjalanan dengan menyewa taksi. Iya taksi. Kan jauh? Emang. Nah lho trus gimana? Tapi yah, tarifnya sama aja kaya naik taksi di Jakarta dengan rute Bandara Soekarno-Hatta ke Pasar Minggu, serius deh. Waktu itu dengan negosiasi yang alot, saya bisa dapat harga Rp.150.000 untuk Semarang-Pasar Sapi. Asli saya sudah nggak ingat lagi gimana perjalanan dari Semarang bisa sampai Pasar Sapi….soalnya saya tidur selama perjalanan :D.

Perjalanan menjanjak dengan berjalan kaki sejauh 2 km tidak terasa dengan pemandangan indah rimbunnya hutan pinus. Aroma kesejukan udara bercampur dengan bau tanah sehabis terkena hujan menambah semangat menuju basecamp. Basecamp Chuntel merupakan tempat registrasi para pendaki, pos ini tergolong cukup memadai, dengan bangunan permanen yang dilengkapi 2 buah kamar mandi, 1 ruang dapur dan ruangan cukup luas bagi para pendaki untuk beristirahat. Pos ini merupakan swadaya dari masyarakat Desa Chuntel yang mengajukan proposal kepada Dinas Pariwisata untuk pembangunan pos ini pada tahun 2006.

Tiket memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu cukup murah, per orang dihargai Rp.2.500 saja. Tanpa adanya pungutan lain, berbeda dengan beberapa taman nasional lain yang pernah saya kunjungi.

Sejak awal pendakian, perjalanan tidaklah mudah, belum jauh berjalan kaki saya sudah cenat-cenut karena cedera akibat hobi lari saya yang kelewatan. Setelah 30 menit berjalan dengan membawa beban pada carrier 75 liter, saya sudah bisa mulai beradaptasi. Hap..hap..!

DSCN4039
Pemandangan Merbabu dan Merapi yang berdampingan

Peta jalur pendakian dan waktu tempuh pendakian yang diberikan petugas saat registrasi awal selalu saya buka, dengan harapan perjalanan akan sesuai dengan yang dimuat di peta tersebut.. Entah siapa yang menjadi dasar dari pembuatan waktu jarak tempuh, yang jelas apa yang tertulis di peta dikali 2 untuk ukuran saya..hehe. Sungguh..

DSCN4106
Disini sudah dingin maksimal. Yes.

Pos 1 hingga Pos 3 perjalanan cukup berat, jalan terus menanjak terjal, namun yang paling berat adalah perjalanan dari Pos 3 ke Pos 4, jalan terjal banget, licin, dan juga sempit. Beberapa kali saya harus bangun dari tanah akibat terjatuh. Pos 4 ditandai dengan sebuah menara yang awalnya saya kira merupakan BTS dari salah satu operator selular, nyatanya itu hanya sebuah menara TNI yang mungkin digunakan sebagai menara pandang. Padahal saya sudah berulang kali mengaktifkan HP dengan harapan bisa update status di gunung. Fix gagal!

DSCN4107
Nampak seperti BTS kan? Ya kan? Yaa 😀

Di Gunung Merbabu, kabut dan hujan sering datang dengan jeda sangat cepat, cuaca tidak stabil ini akhirnya memaksa saya untuk berkemah di Pos 4, rencananya saya ingin berkemah di Puncak Syarif atau di Puncak Ketheng Songo batal total. Hembusan angin kencang yang bisa saya sebut sebagai badai menerpa tenda saya sepanjang sore hingga malam hari. Sudah tidak ingat lagi pakaian kering, basah..basah..basah nyatanya saya harus tidur dengan pakaian basah. Kesel!

Tapi, pilihan untuk berkemah di Puncak 4 sungguh tidak saya sesali, ketika esoknya menempuh perjalanan dari Pos 4 menuju kedua puncak tersebut. Jalannya lebih terjal dari yang saya lalui dari Pos 3 ke Pos 4. Tidak bisa dibayangkan jika harus membawa carrier berjalan di jalur tersebut. Waktu tempuh dari Pos 4 ke persimpangan sebelum puncak sekitar 3 jam, sengaja saya berangkat lebih awal, jam 3 pagi dari Pos 4. Udara dingin yang berhembus saya abaikan demi melihat sunrise di puncak gunung. Padahal, badan sudah menggigil gemerutuk tuh. Yup, saya pecinta Arunika (sinar mentari di pagi hari). Rela banget saya bangun pagi sekali hanya untuk melihat sinarnya yang mulai nampak malu-malu terpancar ke bumi.

DSCN4193
Kalo sudah di puncak, bisa pose seperti ini juga kok

Jika ingin melihat sunrise, pergilah ke Puncak Syarif, puncak ini tidak setinggi Puncak Ketheng Songo, tingginya 3.119 m. Pemandangan sunrise bisa terlihat bebas dari puncak ini, dan juga bisa melihat Gunung Sindoro dan Sumbing muncul di tengah kumpulan awan. Namun jika ingin melihat keindahan Gunung Merapi, pergilah ke Puncak Ketheng Songo, puncak ini merupakan puncak tertinggi Gunung Merbabu, 3.142 m.

Jika berencana untuk melanjutkan mendaki ke Gunung Merapi, jalur turun yang dipergunakan adalah melalui Selo.

DSCN4349
Mau lanjut ke Merapi? Tuh ada di depan.

Yang saya suka ketika berada di gunung adalah bertemu dengan orang-orang baik. Kapan lagi bisa dikasih agar-agar gratis, dikasih makanan hasil masakannya, dan air minum secara cuma-cuma padahal nggak kenal? Syaratnya cuma satu kok, pasang tampang memelas seolah kalian kekurangan logistik di gunung. Padahal saya tau banget kalo mereka juga menjaga logistik agar cukup sampai mereka turun. Tapi ya sudah sih toh mereka juga baik mau berbagi, disyukurin aja :p.

DSCN4427
Jayalah selalu Indonesia, di darat, laut, dan udara!

Selain itu mengibarkan bendera merah-putih di puncak gunung sepertinya agenda wajib para pendaki, tak mau ketinggalan, saya pinjam bendera salah seorang pendaki untuk dikibarkan di Puncak Merbabu. Horee..saya punya juga foto itu.

Turun gunung adalah salah satu bagian yang paling saya sukai ketika naik gunung, selain gak terlalu capai, turun gunung juga berarti saya bakal ketemu nasi padang, sate kambing, dan nasi goreng makanan-makanan kesukaan saya yang tidak ada di gunung. Tapi apa daya, tendon lutut saya cedera parah, jadi aja turun dari Gunung Merbabu dengan kaki pincang. Kalo boleh pilih, saya pilih naik lagi deh, karena kaki gak sakit ketika naik. See you on top!

 

Advertisements

Author:

My shadow leads me to places I've never been visited..It is faith and desire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s