Posted in CouchSurfing, Indonesia, Jawa, Photography

Kedung Tumpang: Cerita dan Ceria

Perjalanan ini diawali dari sebuah obrolan di kantor Ourtrip1st di Kota Malang, sebuah trip organizer yang digagas oleh Martha dan Dani, mereka sudah saya kenal baik sejak perjalanan ke Pulau Menjangan beberapa tahun silam.

“Besok kita jalan yuk, aku temeni mau kemana”, potong Dani di tengah obrolan kami.

IMG_0322
Pemandangan yang bikin eyegasm menuju ke Pantai Lumbung

Asik nih tawaran Dani, sebelumnya selama beberapa hari di Malang, saya selalu jalan-jalan sendiri, foto-foto sendiri, ya alhasil foto-fotonya kebanyakan nggak ada saya in frame. Nasib. Kan kalo jalan ada temannya asik juga, ada teman ngobrol, ada yang bisa fotoin, dan ada yang bisa gantian nyetir (ini paling penting).

“Pengen ke Air Terjun Tumpak Sewu atau ke Pantai Kedung Tumpang”, respon saya pada Dani.

Ternyata kedua tempat ini berbeda arah, Tumpak Sewu ke arah Timur Malang yaitu di Lumajang, sedangkan Kedung Tumpang ke arah Barat Malang yaitu di Tulung Agung, artinya tidak mungkin mengunjungi kedua tempat ini secara bersamaan dalam satu hari. Oke.

Setelah disodori dua pilihan yang menggiurkan, antara mengunjungi Air Terjun Tumpak Sewu atau Pantai Kedung Tumpang, saya memilih Pantai Kedung Tumpang sebagai destinasi yang akan dikunjungi. Pilihan ini sebenarnya sederhana, karena saya memang lebih suka pantai dibanding air terjun, namun yang membuat berat karena kedua tempat ini Instagramable banget! Nggak percaya? Di Instagram masukin hashtag #KedungTumpang dan #TumpakSewu, kecenya biadab banget!

Dani, Ririe, Bidin, dan saya memacu motor dari Malang menuju ke Kedung Tumpang yang membutuhkan perjalanan cukup lama, melewati Waduk Karang Kates, Blitar, dan akhirnya Tulung Agung. Sudah sampai Tulung Agung? Eits jangan senang dulu, karena pantai ini letaknya masih jauh banget dari kota, jika perjalanan lancar, ehmm maksudnya nggak nyasar dan nanya sana-sini gitu, dari Kota Tulung Agung sekitar 1 jam. Tidak ada petunjuk jalan yang pasti di sekitar kota mengenai arah ke Kedung Tumpang, tapi kalo kalian menggunakan Google Maps, sudah ada koordinatnya kok, ketik “Kedung Tumpang” tinggal diikuti saja arah yang diberikan Google Maps, percaya aja deh sama Kang Google. Sebenarnya arah ke Kedung Tumpang itu sejalur dengan Pantai Molang, Pantai Lumbung, dan beberapa pantai lain di sekitar situ kok. Jadi kalo ke Kedung Tumpang, bisa sekalian mampir ke beberapa pantai di sebelahnya.

Kalo nggak pakai Google Maps, dan memilih cara manual alias nanya-nanya sepanjang jalan, kalian harus menemukan pertigaan Ngunut terlebih dahulu, lalu cari arah ke perbukitan Luk Songo (Bukit Kelok Sembilan), setelah perbukitan ini ikuti jalan utama menuju Pasar Puser, disini sudah ada petunjuk untuk menuju ke Pantai Molang, ikuti saja terus jalan ini. Jalan yang semula mulus berganti menjadi jalan berlubang dan sempit, kendaraan harus berjalan perlahan kalo nggak mau terguncang-guncang parah. Selang beberapa kilometer, nanti akan menemukan petunjuk jalan sederhana menuju Kedung Tumpang di sebelah kanan. Mobil dapat diparkir di depan rumah warga yang memang menyediakan parkir bagi pengunjung Kedung Tumpang, selanjutnya bisa naik ojek atau berjalan kaki. Jika bawa motor, bisa mengikuti jalan hingga ke dekat Kedung Tumpang. Kemudian dilanjutkan dengan menuruni bukit, hati-hati ya, jalannya curam. Ini serius.

Pilihan lain adalah meneruskan perjalanan hingga ke Pantai Lumbung yang ada di sisi sebelah Barat dari Kedung Tumpang. Jalannya super jelek, masih berupa tanah dan batuan, jadi perlu ekstra hati-hati disini. Ini juga serius.

DCIM100MEDIA

“Pak, benar ini bisa ke Kedung Tumpang?”, tanya saya pada seorang bapak-bapak yang saya taksir berusia 50 tahunan.

“Iya, betul kok. Bisa lewat bawah ke pantai, lebih dekat jalurnya”, jawabnya singkat.

Kedung Tumpang nyatanya masih jauh juga dari tempat parkir kendaraan, sesuai informasi bapak tadi, ada dua jalur yang bisa ditempuh; pertama, turun bukit lalu jalan menyusuri Pantai Lumbung dan naik ke atas bukit hingga Kedung Tumpang; kedua, jalan menyusuri bukit hingga Kedung Tumpang. Jalur pertama menurutnya lebih singkat. Bapak itu sigap ikut menuruni bukit bersama kami, rupanya ia mau memandu kami ke Kedung Tumpang.

“Siap-siap ya, kalo saya bilang lari, langsung cepat lari dan naik ke batu disana”, perintah bapak tadi pada kami. Maksudnya apa ini? Ternyata setelah saya perhatikan, ombaknya sedang pasang, sehingga jalan di pantai tertutup air laut jika ombak datang.

IMG_0332
Si Bapak yang setia nungguin kita lari demi nggak kena ombak

“Ayo lariii….!!”, seru si bapak pada kami. Byuurrr hempasan ombak rupanya lebih cepat dari lari saya, sehingga basah juga sepatu dan celana saya. Asem! Setelah lewat zona basah, sampai juga di Pantai Lumbung yang letaknya bersebelahan dengan Pantai Blabak atau juga dikenal sebagai Pantai Kelinci, entahlah saya nggak melihat ada kelinci berkeliaran di pantai ini padahal.

IMG_0379

Dani, Ririe, dan Bidin masih asik bermain di pantai, saya berjalan cepat menaiki bukit hingga sampai ke Kedung Tumpang. Harus ekstra hati-hati mulai di kawasan Kedung Tumpang, jalannya berupa batuan karang yang tajam dan belum ada jalur yang jelas untuk menuju ke kolamnya. Beberapa kali saya perlu melompat dan tergesek karang karena salah jalan. Ini beneran serius juga.

OMBAK PASANG

IMG_0342
Private pool at Kedung Tumpang, such a breathtaking view

Saya melihat tidak ada yang berenang di Kedung Tumpang saat itu, ternyata ombak sedang pasang, jadi tidak diperbolehkan berenang. Setelah melihat bagaimana hempasan ombaknya, nekat aja sih kalo tetap mau berenang disaat seperti ini…hempas datang lagi..hempas datang lagi. Andai si Inces Syahrini tau betapa ngerinya hempas-hempasan sama ombak disini.

Saya mendekati pedagang yang berjualan di sekitar lokasi dengan modus mau berteduh, panas banget bro disana.

“Bu, nggak boleh berenang ya?”, tanya saya.

“Iya nih mas, udah 5 hari ombak pasang dan nggak ada yang berenang”, jawab si ibu ramah. Agak kecewa juga sih, sudah jauh kesini, tapi nggak bisa berenang. Ya, tapi inilah resiko bermain di alam, tidak semuanya berjalan sesuai rencana kita. Tapi di atas semuanya, menjaga keselamatan kita sendiri lebih penting ya. Betul kan?

DCIM100MEDIA

Dani yang pengen banget punya foto berenang disini nggak kehabisan akal, ia mencari cekungan yang sekiranya aman untuk berenang, walaupun cekungan itu kecil banget. Yes, literally SMALL! You’re the man of your word, Dani! HAHA.

IMG_0374
Dani’s private pool

Saya nggak mau putus asa gagal berenang di Kedung Tumpang, jadi menunggu sampai ombak sekiranya reda. Ternyata ada 2 kolam disini, Kedung Gede dan Kedung Duwo,ini yang tidak saya sadari sebelumnya. Di Kedung Duwo ombak relatif lebih stabil, tidak terlalu besar hempasannya, sehingga diperbolehkan berenang saat itu, tapi tetap berhati-hati.

IMG_0381
Kedung Duwo yang relatif lebih aman dari hempasan ombak

YESSS finally I swim at Kedung Tumpang!!!

Yang perlu banget diperhatiin kalo ke Kedung Tumpang:

  1. Tempat wisata ini baru, jadi aksesibilitas jalan belum memadai banget. Jalan mulai dari pertigaan Pasar Puser hingga lokasi masih rusak dan sempit, jangan nekat naik mobil sedan yang ceper kalo nggak pengen mobilnya gesrek, apalagi naik bis dengan 52 tempat duduk. Ngerepotin. Bawa motor sebenarnya paling enak kok.
  2. Habis parkir kendaraan, harus jalan lumayan jauh dan turun naik jalan yang nggak bagus, lalu sampai di Kedung Tumpang. Dandannya jangan ngaco, apalagi yang cewek, jangan sok-sokan pake sandal jepit, long dress, maxi dress, mini dress, jumpsuit atau apalah yang ribet gitu. Mending pakai pakaian yang nyaman buat trekking trus nanti ganti pakai pakaian dress tadi di dekat Kedung Tumpang-nya, ada fasilitas kamar mandi (ganti) seadanya kok.
  3. Jangan gatel buang sampah sembarangan, loe gembel banget kalo masih suka buang sampah sembarangan. Trus jangan repot nyoret-nyoret di batu karang disana dengan nama loe atau pacar loe, percuma nggak ada yang kenal dan peduli juga sama loe. Sekali lagi, percuma broh!
  4. Bawa minuman atau makanan boleh aja, tapi disana ada warga lokal yang jual makanan dan minuman juga lho. Yaa sederhana sih kaya Pop Mie, minuman botol, kopi, tapi dengan membeli dagangan mereka, kalian juga turut membantu perekonomian masyarakat sekitar lho. Harganya dijamin nggak beda jauh sama di minimarket, apalagi dibanding perjuangan mereka bawa makanan dan minuman itu sampai ke Kedung Tumpang dengan trekking di jalan yang nauzubillah.
  5. Kalo ombak besar, jangan nekat mau nyemplung ke kolam demi foto-foto. Udah tau kan banyak orang yang meninggal gara-gara pengen foto selfie? Nggak mau jadi korban selanjutnya kan? Disana ada penjaga yang mengawasi pengunjung agar tetap aman, jadi kalo nanti nekat turun dan diperingatin mereka pakai peluit jangan komplain ya. Your safety is their main concern!
  6. Belum ada tiket masuk ke Kedung Tumpang, karena tempatnya juga masih baru. Jadi bagi-bagi rezeki boleh banget lho sama petugas yang membantu mengawasi ombak agar kalian selamat.
  7. Kedung Tumpang ditutup jam 4 sore. Lebih baik pagi hari kesini, selain ombak tidak besar, kalian juga bisa eksplor pantai-pantai kece di dekat Kedung Tumpang. Oh ya, kalo mau lihat sunset yang kece, bisa banget di Pantai Lumbung.

    IMG_0425
    Sunset di Pantai Lumbung
Advertisements

Author:

My shadow leads me to places I've never been visited..It is faith and desire.

7 thoughts on “Kedung Tumpang: Cerita dan Ceria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s